Peningkatan aktivitas matahari (matahari meledakkan flarenya)
| Peningkatan aktivitas Matahari kali ini dikhawatirkan bisa mengganggu peradaban di Bumi, terutama dalam pengendalian satelit, komunikasi dan sistem tenaga. |
Gambar kanan : potret coronagraph dari satelit SOHO yang dibuat pada tanggal 6 Juni 2000, perhatikan ledakan-ledakan yang terpancarkan dari permukaan Matahari (Sumber : SOHO) Matahari yang menjadi pusat tata surya kita ternyata bukanlah obyek yang diam begitu saja. Baru-baru ini sebuah tim astronom yang bersenjatakan satelit milik NASA mengemukakan penemuannya bahwa Matahari kita itu ternyata begitu dinamis, bahkan akhir-akhir ini ia nampak 'meledak-ledak'.Para ilmuwan tersebut menggunakan dua macam instrumen. Untuk menganalisis gelombang radio yang dipancarkan Matahari mereka menggunakan wahana antariksa Wind, sementara untuk menghasilkan potret-potret yang menggambarkan dinamika Matahari digunakan satelit SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) yang dilengkapi dengan coronagraph. Wind dikendalikan oleh NASA, sementara SOHO merupakan proyek kerjasama antara NASA dengan badan antariksa Eropa (ESA). Periodik Ledakan-ledakan yang berasal dari korona - lapisan selubung terluar Matahari - itu merupakan bagian dari aktivitas Matahari yang dinamik. Sudah sejak abad ke-19 manusia mengamati bahwa aktivitas Matahari senantiasa mencapai puncaknya setiap 11 tahun. Ledakan-ledakan ini - yang diistilahkan dengan coronal mass ejection (CME) - merupakan satu rangkaian aktivitas Matahari yang diikuti dengan pancaran gelombang radio yang cukup pekat dan disertai dengan menurunnya kuantitas bintik-bintik Matahari di lapisan forosfer. Puncak aktivitas terakhir terjadi di tahun 1991 lalu, sehingga diramalkan di tahun 2002 mendatang kembali terjadi puncak aktivitas. Mengapa Matahari memiliki periode aktivitas 11 tahun, sampai sekarang belum dapat ditemukan jawabannya. Namun diduga terdapat kaitan dengan kondisi magnetik Matahari. Dalam kondisi normal, Matahari pun memiliki aktivitas yang ditandai dengan petumbuhan bintik-bintik Matahari, flare - bagian yang cemerlang di antara bintik-bintik Matahari - dan lidah api Matahari. Lidah api Matahari merupakan aliran proton dalam jumlah yang sangat besar, yang nampak seperti api berkobar-kobar yang menyembur dari fotosfer Matahari menembus lapisan kromosfer dan korona. Semburan lidah api tersebut menghasilkan guyuran proton dan elektron yang memiliki kecepatan ratusan hingga 2000 km / detik. Partikel-partikel ini - dikenal sebagai angin Matahari - akan sampai di Bumi dalam 13 hingga 26 jam. Namun, radiasi yang turut serta dalam proses tersebut akan tiba di Bumi hanya dalam waktu 8 menit sebagai gelombang radio. KLIK DIBAWAH INI UTK BACA SELENGKAPNYA |